Aceh

PHE NSO Restorasi Lahan Kritis di Aceh Utara, Dukung Pemulihan Habitat Gajah

×

PHE NSO Restorasi Lahan Kritis di Aceh Utara, Dukung Pemulihan Habitat Gajah

Sebarkan artikel ini

Netralpos.com. Aceh Utara — Upaya menjaga habitat satwa liar sekaligus mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa terus dilakukan di Kabupaten Aceh Utara. Salah satunya melalui program restorasi lahan kritis dan penguatan konservasi di kawasan lanskap Cot Girek. Rabu, 9/9/2026

Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO), bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1 (Pertamina Hulu Rokan Zona 1), bersama Lembaga Pembelaan Lingkungan Hidup dan Hak Asasi Manusia (LPLHa) menjalankan program konservasi yang berfokus pada mitigasi konflik manusia dan satwa liar, pengembangan Biodiversity Camp Center, serta restorasi lahan kritis di Gampong Peureupok, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara.

Program tersebut diarahkan untuk mendukung pemulihan ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati di lanskap Cot Girek, termasuk mempertahankan ruang jelajah satwa liar seperti gajah.

Selain restorasi lahan, para pihak juga menyusun peta jalan penyelesaian konflik manusia dan gajah sebagai salah satu acuan dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.

Penguatan upaya konservasi turut ditandai dengan peresmian Biodiversity Camp Center pada akhir Agustus 2026. Fasilitas tersebut dikembangkan untuk mendukung kegiatan edukasi, pemantauan, dan kolaborasi dalam upaya konservasi.

Program ini melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, LPLHa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta masyarakat di sekitar kawasan.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Aceh Utara, M. Nasir, mengatakan kolaborasi berbagai pihak diperlukan untuk menjaga keberlanjutan kawasan hutan dan lingkungan.

“Aspek kolaborasi sangat penting dalam upaya melakukan restorasi dan menjaga hutan. Masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan juga memiliki peran penting dalam memastikan perlindungan lingkungan,” ujar M. Nasir saat peresmian Biodiversity Camp Center di Gampong Peureupok, Kecamatan Paya Bakong, Agustus 2026.

Menurutnya, kawasan hutan tidak hanya berfungsi sebagai habitat flora dan fauna, tetapi juga menjadi bagian dari ruang kehidupan masyarakat.

“Kawasan ini bukan sekadar menjadi habitat berbagai satwa seperti gajah dan tumbuhan, tetapi juga ruang kehidupan masyarakat di lokasi. Karena itu, keseimbangan harus dijaga bersama,” katanya.

PHE NSO bersama LPLHa telah menginisiasi program tersebut sejak 2023. Sejumlah kegiatan dilakukan secara bertahap, mulai dari patroli dan mitigasi konflik manusia dengan satwa liar, pengembangan Biodiversity Camp Center, hingga restorasi lahan melalui penanaman pohon dengan melibatkan masyarakat dan petani lokal.

Field Manager PHE NSO, Riski Kushardani, mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga keberlanjutan program konservasi.

“Penanaman pohon merupakan langkah nyata untuk memperkuat pemulihan ekosistem dan menjaga habitat berbagai satwa di kawasan tersebut,” ujar Riski.

PHE NSO juga melakukan penanaman sejumlah jenis pohon endemik yang dipilih untuk mendukung keanekaragaman hayati di lanskap Cot Girek. Kegiatan tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap pemulihan habitat dan mendukung ruang jelajah satwa liar, termasuk gajah.

Riski menegaskan, upaya konservasi perlu memperhatikan keberadaan satwa sekaligus kehidupan masyarakat di sekitar kawasan.

“Pengelolaan keanekaragaman hayati tidak dapat hanya berfokus pada perlindungan satwa. Upaya tersebut juga harus berjalan seiring dengan perlindungan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Melalui kolaborasi pemerintah, perusahaan, lembaga konservasi, dan masyarakat, program restorasi di lanskap Cot Girek diharapkan dapat mendukung pemulihan lahan sekaligus membangun keseimbangan antara kelestarian ekosistem dan kehidupan masyarakat.