Netralpos.com. Lhokseumawe – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Lhokseumawe memaparkan perkembangan ekonomi global dan regional dalam kegiatan Temu Media 2026 yang digelar di Kantor Perwakilan BI Lhokseumawe, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Sinergi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan”, sekaligus menjadi ruang komunikasi antara Bank Indonesia dan insan media dalam membahas berbagai perkembangan ekonomi serta tantangan yang dihadapi daerah.
Dalam pemaparannya, Kepala KPw Bank Indonesia Lhokseumawe, Yudho Herlambang, menyampaikan sejumlah perkembangan ekonomi global yang perlu menjadi perhatian, termasuk prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 yang diperkirakan masih relatif lemah.
Berdasarkan materi yang dipaparkan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diproyeksikan berada di sekitar 3 persen. Kondisi tersebut turut dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, gangguan rantai pasok serta perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga komoditas dunia.
Perubahan harga komoditas global juga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena dapat memberikan dampak terhadap perekonomian daerah, khususnya melalui tekanan terhadap harga sejumlah kebutuhan masyarakat.
Selain perkembangan global, BI Lhokseumawe turut memaparkan perkembangan inflasi di Provinsi Aceh dan sejumlah daerah yang menjadi wilayah kerja KPw BI Lhokseumawe.
Dalam materi tersebut disebutkan bahwa setelah mengalami peningkatan pada akhir 2025, inflasi di Provinsi Aceh dan tiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) sempat melandai pada Februari hingga April 2026 seiring masuknya periode panen raya.
Namun, laju inflasi kembali meningkat setelah berakhirnya musim panen raya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan koordinasi dan sinergi antarpemangku kepentingan dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga.
Untuk Kota Lhokseumawe, sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang inflasi pada Juli 2026, di antaranya beras, semen, nasi dengan lauk, ikan goreng, dan tomat.
Sementara komoditas yang memberikan tekanan penahan inflasi atau deflasi antara lain emas perhiasan, bawang merah, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, telur ayam ras, dan cabai merah.
BI Lhokseumawe juga menyoroti kondisi pasokan pangan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga. Komoditas beras menjadi salah satu perhatian seiring berangsur menurunnya pasokan gabah di tingkat petani.
Di sisi lain, pergerakan harga aneka cabai turut dipengaruhi oleh perubahan musim tanam di sejumlah daerah sentra produksi.
Melalui kegiatan temu media tersebut, BI Lhokseumawe mendorong penguatan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk media, untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai perkembangan ekonomi dan pentingnya menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Sinergi tersebut diharapkan dapat mendukung pengendalian inflasi, menjaga daya beli masyarakat, serta memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.












