Netralpos, Langsa – Banjir luapan yang kembali merendam permukiman warga di bantaran DAS Krueng Langsa membuktikan bahwa kepemimpinan Wali Kota Langsa, Jeffry Sentana S. Putra, sama sekali tidak belajar dari pengalaman bencana yang terus berulang dari tahun ke tahun. Alih-alih merumuskan kebijakan mitigasi preventif yang tuntas, Pemkot Langsa seolah terjebak dalam lingkaran setan birokrasi yang lamban dan gagal total membaca tanda-tanda darurat lingkungan. Sabtu 12/09/2026.
Gaya penanganan yang ditunjukkan oleh Wali Kota Jeffry Sentana selama ini dinilai sangat krisis inovasi dan hanya bersifat reaktif musiman. Setiap kali air bah menerjang dan merendam rumah warga, respons yang dimunculkan tidak pernah jauh dari pola lama: turun meninjau lokasi, menebar janji manis di depan kamera, lalu membagikan bantuan logistik seadanya tanpa pernah memegang akar masalah yang sebenarnya.
Sorotan tajam patut diarahkan pada lemahnya ketegasan eksekutif di bawah komando Wali Kota Jeffry Sentana dalam menyikapi persoalan hulu, seperti maraknya kayu gelondongan dan ancaman abrasi tanggul yang dibiarkan tanpa tindakan hukum nyata. Ketidakmampuan kepala daerah dalam menertibkan oknum-oknum perusak lingkungan di wilayah penyangga memperlihatkan pembiaran terstruktur yang pada akhirnya mengorbankan keselamatan masyarakat banyak.
Pemerintahan di bawah kepemimpinan Jeffry Sentana terkesan hanya bisa berpangku tangan menunggu bencana datang, alih-alih memperkuat infrastruktur pengendali banjir dan merestorasi daerah aliran sungai secara komprehensif. Tindakan preventif yang seharusnya menjadi prioritas justru dikalahkan oleh agenda seremonial yang tidak berdampak apa-apa bagi keselamatan warga di kawasan rawan.
Jika pola kepemimpinan yang hobi “pemadaman kebakaran” ini terus dipelihara tanpa adanya evaluasi total dan langkah nyata dari Wali Kota Jeffry Sentana, warga Langsa akan selamanya hidup dalam teror banjir tahunan. Sudah saatnya publik mempertanyakan komitmen sang Wali Kota, sebab jabatan yang diemban bukan sekadar panggung pencitraan di saat musibah, melainkan sebuah tanggung jawab besar untuk melindungi rakyatnya dari ancaman bencana yang sebenarnya bisa dicegah.

By Admin