Netralpos, Lhokseumawe — Sikap Koordinator Wilayah SPPG Kota Lhokseumawe, Muhammad Aris Muladi, yang belum memberikan tanggapan saat dimintai klarifikasi oleh awak jurnalis menuai sorotan. Senin 7 September 2026.
Sejumlah upaya konfirmasi telah dilakukan melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon untuk meminta penjelasan terkait tujuh SPPG yang hingga kini belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), termasuk pertanyaan mengenai dapur yang sebelumnya ditemukan memiliki persoalan E. coli.
Namun, hingga berita ini disusun, belum ada jawaban yang diberikan.
Sikap diam tersebut tentu menjadi pertanyaan. Apalagi yang diminta bukan informasi pribadi, melainkan penjelasan mengenai program pemerintah yang menyangkut makanan dan pemenuhan gizi masyarakat.
Awak jurnalis bekerja untuk memastikan informasi yang diterima publik tidak sepotong dan tidak hanya berasal dari satu pihak. Ketika muncul persoalan, pihak yang berwenang justru seharusnya tampil memberikan penjelasan, bukan membiarkan pertanyaan publik menggantung.
Jika persoalan E. coli sudah ditangani, sampaikan hasil pemeriksaan ulangnya. Jika tujuh SPPG tersebut bukan dapur yang sebelumnya bermasalah, jelaskan SPPG mana yang dimaksud dan bagaimana statusnya saat ini.
Sederhana: media bertanya, koordinator menjawab.
Tidak ada yang meminta perlakuan khusus. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan dan kepastian informasi.
Karena itu, Muhammad Aris Muladi patut memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak muncul kesan bahwa pertanyaan media dihindari. Kritik dan pertanyaan wartawan bukanlah ancaman, melainkan bagian dari kontrol sosial dan upaya memastikan program pemerintah berjalan sebagaimana mestinya.
Program MBG membutuhkan kepercayaan masyarakat. Dan kepercayaan tidak dibangun dengan diam, tetapi dengan keterbukaan, data dan jawaban yang jelas.
Hingga berita ini diterbitkan, Muhammad Aris Muladi belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi melalui WhatsApp maupun telepon.
Ruang klarifikasi tetap terbuka bagi yang bersangkutan.












