Netralpos, Aceh Utara — Delapan abad Samudera Pasai menjadi perjalanan panjang yang menyimpan catatan kejayaan Aceh Utara. Namun, momentum bersejarah tersebut juga menghadirkan pertanyaan: sejauh mana warisan kejayaan itu telah memberi dampak nyata bagi masyarakat saat ini?
Peringatan 800 tahun Samudera Pasai kembali mengingatkan bahwa kawasan Aceh Utara pernah menjadi salah satu pusat perdagangan, ilmu pengetahuan dan perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara.
Kini, setelah 800 tahun berlalu, tantangannya bukan sekadar menjaga cerita tentang kejayaan masa lalu, tetapi bagaimana sejarah tersebut diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi, pendidikan, pariwisata dan kesejahteraan masyarakat. Selasa 08/09/2026.
Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil mengatakan peringatan 800 tahun Samudera Pasai harus menjadi momentum untuk memperkuat budaya dan membangun daerah.
Menurutnya, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan yang telah ditinggalkan para leluhur.
“Yang kita terima dari leluhur wajib kita pulangkan kepada anak cucu. Jika tidak bisa lebih baik, setidaknya jangan kurang dari apa yang ada,” ujar Ismail A. Jalil.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat Aceh Utara. Sebab, kejayaan sejarah akan kehilangan makna apabila hanya berhenti pada seremoni, sementara berbagai persoalan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah.
Samudera Pasai memiliki nilai sejarah yang besar. Namun, nilai tersebut membutuhkan pengelolaan yang serius agar tidak sekadar menjadi narasi yang kembali muncul setiap momentum peringatan hari jadi.
Delapan abad Samudera Pasai akhirnya bukan hanya soal mengingat masa lalu, tetapi juga mengukur sejauh mana Aceh Utara mampu mengubah warisan sejarah menjadi kekuatan untuk menghadapi masa depan.












