Netralpos.com – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dengan bangga menghamburkan anggaran rupiah dengan angka yang tidak kecil demi menggelar kemegahan seremonial Upacara Peringatan 800 Tahun Kerajaan Samudera Pasai di tengah jeritan warga yang tengah kesulitan. Selasa 8/09/2026.
Di balik megahnya panggung perayaan, meja-meja para pejabat tampak berlimpah ruah dengan suguhan aneka kue dan cemilan lezat di bawah naungan tenda, sementara rakyat biasa berdiri tepat di samping tenda tersebut hanya dibatasi oleh pagar besi setinggi dada orang dewasa.

Sambil celingak-celinguk menatap ke dalam, warga hanya bisa melihat dari dekat kemewahan yang tersaji, terhalang oleh sekat besi yang menegaskan jurang pemisah antara kenyamanan elite dan nestapa rakyat.
Pemandangan kontras ini semakin menyesakkan dada karena di saat anggaran negara digelontorkan tanpa batas untuk hura-hura sejarah, sawah-sawah milik warga hingga kini masih rusak dan belum bisa diolah kembali menjadi lahan untuk bertanam padi.
Ketimpangan distribusi bantuan sosial pun kian memperparah keadaan, di mana sebagian kecil warga sudah tersentuh bantuan sementara mayoritas lainnya masih menunggu tanpa kepastian di tengah himpitan ekonomi yang mencekik.
Meluapkan kekesalannya atas ironi tersebut, Taufik (42), warga Kecamatan Langkahan, menyuarakan kepedihannya terhadap prioritas pemerintah yang dinilai tidak punya hati nurani.”Sebagian tetangga kami mungkin sudah ada yang dapat bantuan, tapi kami di pedalaman Langkahan dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian. Sawah belum bisa ditanami padi dan hidup susah, tapi pemerintah malah asyik pesta pora pakai uang miliaran rupiah di depan mata kami,” ujarnya dengan nada geram.
Alih-alih meringankan beban rakyat yang terpuruk di balik pagar pembatas, perhelatan akbar delapan abad ini justru menjelma menjadi monumen egoisme birokrasi yang tega berpesta di atas jeritan penderitaan warganya sendiri.












