Berita

Pengaduan Nasabah Di Respon Hinaan Oleh Pejabat Bank Mandiri

×

Pengaduan Nasabah Di Respon Hinaan Oleh Pejabat Bank Mandiri

Sebarkan artikel ini

Netralpos, Jakarta — Prestasi karier mentereng dan jabatan tinggi di perusahaan plat merah ternyata sama sekali tidak menjamin kualitas adab seseorang. Sebuah ironi telak tersaji di dunia maya ketika seorang Relationship Manager PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. tertangkap basah melontarkan komentar merendahkan kepada seorang nasabahnya sendiri yang tengah menghadapi kendala perbankan.

Alih-alih menunjukkan profesionalisme dan memberikan solusi atas kepanikan sang nasabah, oknum pejabat bank tersebut justru memilih jalur arogan dengan melontarkan cacian murahan di kolom komentar.

Kasus ini bermula ketika seorang nasabah bernama Syauqina Maghfirah mengeluhkan kartu ATM miliknya yang mendadak lumpuh dan tidak bisa digunakan. Alih-alih dibantu, ia justru dikagetkan dengan balasan komentar dari akun Threads milik Larasanti Putri Mantika — seorang pegawai yang berdasarkan rekam jejak digital LinkedIn menjabat sebagai Relationship Manager di Bank Mandiri — dengan kalimat telak: “Ga miskin tapi kampungan”.

Sikap pongah ini kontan memancing ampunan publik dunia maya. Saat aduannya diabaikan dan permintaan untuk menghapus komentar tak digubris, Syauqina memilih membeberkan arogansi oknum tersebut melalui sebuah utas yang akhirnya meledak dan viral. Unggahan itu diserbu belasan ribu tanda suka dan ribuan komentar geram dari netizen.

Polanya selalu sama dan memuakkan: bernyali besar saat merendahkan orang lain di ruang publik, namun langsung ciut begitu sanksi sosial menghantam. Begitu isu ini menggema dan menjadi bola liar, sang manajer yang bersangkutan mendadak sibuk menghubungi korban untuk memelas minta maaf sekaligus memohon agar unggahan tersebut segera diturunkan (take down).

Namun nasi sudah menjadi bubur. Syauqina dengan tegas menolak menghapus unggahan tersebut, menyisakan teladan pahit bagi siapa saja yang mengira jabatan tinggi memberi hak untuk bertindak semena-mena terhadap rakyat kecil.

Peristiwa ini sekaligus menjadi tamparan keras bahwa titel pendidikan tinggi dari kampus ternama dan lencana jabatan prestisius di LinkedIn sama sekali tak bernilai jika pemiliknya gagal mengontrol jempol dan kehilangan akal sehat di hadapan publik.