AcehBeritaINTERNASIONALNews

HMI Badko Aceh Apresiasi Pengungkapan 1,2 Ton Sabu, Siap Kolaborasi Berantas Narkoba

×

HMI Badko Aceh Apresiasi Pengungkapan 1,2 Ton Sabu, Siap Kolaborasi Berantas Narkoba

Sebarkan artikel ini

Netralpos, Banda Aceh  — Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badko Aceh, Muhammad Fadli, S.H., CPLA, mengapresiasi Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto beserta jajaran Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), Bea Cukai, dan pihak terkait atas pengungkapan laboratorium gelap narkotika di Aceh dengan barang bukti hampir 1,2 ton.

Menurut Fadli, pengungkapan tersebut menjadi langkah penting dalam melindungi masyarakat, khususnya generasi muda, dari ancaman peredaran narkotika. Ia berharap keberhasilan itu ditindaklanjuti dengan pengusutan jaringan hingga ke bandar utama dan pihak lain yang terlibat.

“Kami mengapresiasi Kapolri dan seluruh jajaran yang telah mengungkap laboratorium gelap narkotika di Aceh. Ini bukan sekadar keberhasilan penegakan hukum, tetapi juga upaya menyelamatkan masa depan generasi bangsa dari ancaman narkoba,” ujar Fadli dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).

Diketahui, tim gabungan melakukan penindakan pada 21 Oktober 2026 di lima lokasi yang tersebar di Kabupaten Pidie, Bireuen, Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe. Dalam operasi tersebut, aparat mengamankan hampir 1,2 ton bruto narkotika, termasuk sekitar 500 kilogram sabu kristal dan 20 drum berisi metamfetamin cair.

Sebanyak 11 orang turut diamankan, terdiri atas dua warga negara asing dan sembilan warga negara Indonesia. Penyidik masih mendalami keterlibatan masing-masing pihak serta jaringan di balik aktivitas tersebut.

Fadli menilai, pengungkapan ini menunjukkan bahwa ancaman narkotika di Aceh perlu ditangani secara serius dan berkelanjutan. Dugaan keterlibatan jaringan internasional serta adanya fasilitas produksi narkotika menjadi peringatan bagi seluruh pihak untuk memperkuat pengawasan dan pencegahan.

Ia mendorong aparat penegak hukum menelusuri bandar utama, jalur distribusi, aliran dana, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain berdasarkan bukti yang ditemukan dalam penyidikan.

“Jangan berhenti pada penyitaan barang bukti dan penangkapan pelaku di lapangan. Jaringan di balik produksi dan peredaran narkotika harus diungkap agar pemberantasannya benar-benar menyentuh akar persoalan,” tegasnya.

HMI Siap Berkolaborasi

Fadli mengatakan, pemberantasan narkotika tidak dapat hanya mengandalkan penindakan aparat, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, lembaga pendidikan, keluarga, dan organisasi kepemudaan.

Sebagai organisasi mahasiswa, HMI Badko Aceh menyatakan siap berkolaborasi dengan Polri dan lembaga terkait melalui edukasi antinarkoba, diskusi publik, kampanye pencegahan, serta penguatan literasi hukum di lingkungan kampus dan masyarakat.

“Kami siap menjadi mitra strategis Polri dalam membangun gerakan bersama melawan narkotika di Aceh. Kader HMI dapat mengambil peran dalam edukasi, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan mendorong generasi muda menjauhi narkoba,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang tepat terhadap korban penyalahgunaan narkotika. Menurutnya, penegakan hukum harus tegas terhadap jaringan produksi, bandar, dan pengedar, sedangkan korban penyalahgunaan perlu mendapatkan penanganan sesuai ketentuan hukum dan kebutuhan rehabilitasi.

Selain narkotika, Fadli meminta aparat penegak hukum memperkuat pemberantasan tambang ilegal di Aceh. Ia menilai aktivitas pertambangan tanpa izin yang melanggar hukum berpotensi merugikan negara, merusak lingkungan, mengancam keselamatan masyarakat, dan memicu konflik sosial.

Ia mendorong Polri bersama pemerintah daerah dan instansi terkait menelusuri pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas pertambangan ilegal, termasuk pemodal dan jaringan distribusi, apabila ditemukan bukti yang cukup.

“Persoalan narkotika dan tambang ilegal sama-sama membutuhkan keberanian, konsistensi, dan penegakan hukum yang tidak tebang pilih. Siapa pun yang terbukti melanggar hukum harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Fadli menegaskan, apresiasi terhadap keberhasilan aparat tidak berarti menutup ruang kritik. Sebaliknya, keberhasilan tersebut diharapkan menjadi dorongan untuk meningkatkan profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas penegakan hukum.

Ia berharap pengungkapan hampir 1,2 ton narkotika di Aceh menjadi momentum untuk memperkuat pemberantasan jaringan narkoba, meningkatkan pengawasan, serta memperluas keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan.

“Kami berharap pemberantasan narkotika dan kejahatan lingkungan terus dilakukan secara konsisten. HMI siap berkolaborasi demi melindungi generasi muda dan mewujudkan Aceh yang lebih aman, sehat, serta bermartabat,” tutup Fadli.[]