Netralpos.com – Zul Fajri Joesva, M.H. Pengurus LPI Darul Falah, Desa Matangkeh, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara
Bulan Rabiul Awal menjadi salah satu bulan yang istimewa bagi umat Islam. Di Aceh, suasana itu terasa semakin kuat melalui tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di berbagai tempat.
Dalam sebuah undangan Maulid di salah satu pesantren tahfiz Al-Quran di Banda Aceh, penulis mendapati perbincangan sejumlah ustaz mengenai kedatangan Nabi Muhammad SAW yang dikaitkan dengan kitab-kitab samawi sebelum Al-Quran.
Perbincangan itu kemudian mengarah pada satu pertanyaan menarik: apakah kedatangan Nabi Muhammad SAW telah diberitakan dalam kitab-kitab terdahulu, khususnya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?
Dalam pandangan yang berkembang di kalangan ulama Muslim, sejumlah ayat dalam kitab-kitab tersebut dinilai memiliki isyarat mengenai kedatangan nabi terakhir. Pembahasan itu juga berkaitan dengan istilah ummi yang disematkan kepada Rasulullah SAW.
Memahami Keummian Nabi SAW
Quraish Shihab menjelaskan bahwa lafaz ummi memiliki keterkaitan dengan kata umm yang berarti ibu. Istilah tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi masyarakat Arab pada masa Jahiliah yang belum mengenal tradisi baca-tulis secara luas.
Pandangan lain menghubungkannya dengan ummah, yakni masyarakat Quraisy yang pada masa itu dikenal sebagai kelompok yang ummi atau tidak mengenal baca-tulis.
Hal tersebut antara lain diperkuat dengan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya kami ialah umat yang ummi (buta huruf), tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung.” (HR Bukhari).
Dalam Shafwatut Tafsir, Ali as-Shabuni berpandangan bahwa Nabi Muhammad SAW disebut ummi dalam pengertian tidak membaca dan menulis sebelum turunnya Al-Quran. Sementara Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengemukakan sejumlah pendapat mengenai makna ummi, termasuk yang mengaitkannya dengan Ummul Qura atau Makkah.
Fakhruddin al-Razi juga mengemukakan pandangan bahwa istilah ummi dapat dinisbatkan kepada sifat bangsa Arab pada masa itu yang belum mengenal kemampuan membaca, menulis, dan berhitung secara luas.
Dalam konteks ini, penulis sependapat dengan pandangan al-Razi bahwa keummian Rasulullah SAW menunjukkan bahwa beliau tidak memiliki akses untuk membaca kitab-kitab terdahulu yang menggunakan bahasa Ibrani, Yahudi, maupun Suryani.
Pada saat yang sama, sejarah penulisan Al-Quran mencatat bahwa Rasulullah SAW menyampaikan wahyu kepada para sahabat untuk dituliskan. Jika terdapat kesalahan penulisan, beliau memberikan koreksi.
Al-Quran sendiri menegaskan hal tersebut dalam Surah Al-Ankabut ayat 48:
“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Al-Quran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.”
Menurut penulis, ayat tersebut menjadi salah satu dasar bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW bukanlah hasil meniru kitab-kitab sebelumnya.
Nubuat Muhammad SAW dalam Perjanjian Lama
Al-Quran menyebut bahwa kedatangan Nabi Muhammad SAW telah diberitakan dalam kitab-kitab terdahulu.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 157:
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”
Hal serupa disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 146, yang menurut penulis menunjukkan bahwa sebagian ahli kitab telah mengenali ciri-ciri Nabi Muhammad SAW.
Dalam sejarah Islam juga dikenal sejumlah tokoh ahli kitab yang kemudian mengenali tanda-tanda kenabian Muhammad SAW, di antaranya Abdullah bin Salam dan Buhaira.
Salah satu ayat yang sering dikaitkan dengan kedatangan nabi setelah Musa adalah Ulangan 18:18:
“Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
Frasa “seperti engkau ini” menjadi bagian penting dalam pembahasan tersebut. Menurut penulis, terdapat sejumlah kesamaan antara Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW, terutama dalam hal menerima wahyu dan membawa syariat bagi umatnya.
Dalam pandangan penulis, Nabi Muhammad SAW merupakan keturunan Nabi Ismail AS. Karena itu, istilah “saudara” Bani Israel dalam ayat tersebut dapat dipahami sebagai bangsa yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Bani Israel.
Pandangan tersebut menjadi dasar bagi penulis untuk mengaitkan nubuat Ulangan 18:18 dengan Nabi Muhammad SAW.
Isyarat dalam Kitab Yesaya
Kitab Yesaya 29:12 menyebut:
“Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: ‘Baiklah baca ini,’ maka ia akan menjawab: ‘Aku tidak dapat membaca.’”
Menurut penulis, ayat tersebut memiliki keterkaitan dengan peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira.
Ketika Malaikat Jibril menyampaikan perintah iqra’ atau “bacalah”, Nabi Muhammad SAW menjawab, “Ma ana bi-qari” yang berarti “Aku tidak pandai membaca”.
Namun, tafsir tersebut bukan satu-satunya pandangan. Para teolog dan penafsir Kristen memahami konteks Yesaya 29:12 sebagai gambaran mengenai kebutaan rohani bangsa Israel dan para pemimpinnya pada masa Nabi Yesaya. Dengan demikian, mereka tidak memahaminya sebagai nubuat personal mengenai nabi yang akan datang.
Penulis memiliki pandangan berbeda dan melihat frasa “Aku tidak dapat membaca” sebagai bagian yang memiliki keterkaitan dengan peristiwa wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Gunung Paran dan Nubuat Nabi Akhir Zaman
Isyarat lain yang dibahas terdapat dalam Ulangan 33:1-3. Dalam ayat tersebut disebutkan Sinai, Seir, dan Paran.
Menurut penulis, Sinai berkaitan dengan tempat Nabi Musa AS menerima wahyu, sedangkan Paran dikaitkan dengan wilayah yang berhubungan dengan Nabi Ismail AS dan kemudian dengan Makkah.
Kejadian 21:21 menyebut bahwa Ismail tinggal di padang gurun Paran. Berdasarkan keterkaitan tersebut, penulis memahami penyebutan Paran sebagai salah satu isyarat mengenai tempat munculnya nabi dari keturunan Ismail AS.
Dalam pandangan tersebut, frasa mengenai “puluhan ribu orang yang kudus” juga dikaitkan dengan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang mendampingi beliau dalam perjuangan menyebarkan Islam.
Kitab Habakuk 3:3 juga menyebut Paran. Penulis melihat pengulangan nama Paran dalam sejumlah bagian kitab tersebut sebagai petunjuk yang memiliki kaitan dengan kedatangan seorang nabi pada akhir zaman.
Selain itu, Hagai 2:7-8 juga dibahas melalui istilah yang dalam teks Ibrani disebut Cemdah, yang oleh penulis dikaitkan dengan makna “yang terpuji”. Kata tersebut kemudian dihubungkan dengan nama Muhammad yang berarti “orang yang terpuji”.
Nubuat Muhammad SAW dalam Perjanjian Baru
Pembahasan mengenai kedatangan Nabi Muhammad SAW juga dikaitkan dengan Injil Yohanes.
Dalam Yohanes 14:15-16 disebutkan:
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahku. Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain supaya ia menyertai kamu selama-lamanya.”
Istilah Parakletos dalam bahasa Yunani kemudian menjadi bagian penting dalam perdebatan mengenai identitas “Penolong” yang disebut dalam ayat tersebut.
Menurut penulis, istilah tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan “yang terpuji”, sehingga dikaitkan dengan nama Muhammad atau Ahmad.
Pembahasan serupa terdapat dalam Yohanes 15:26 yang menyebut tentang “Penghibur” atau “Roh Kebenaran” yang akan datang.
Dalam perspektif Islam, hal tersebut kemudian dikaitkan dengan Surah Ash-Shaff ayat 6, ketika Nabi Isa AS menyampaikan kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang setelahnya dengan nama Ahmad.
Allah SWT berfirman:
“Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab yang turun sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”
Bagi penulis, rangkaian ayat tersebut menunjukkan adanya kesinambungan pemberitaan mengenai kedatangan Nabi Muhammad SAW dalam kitab-kitab sebelum Al-Quran.
Kesimpulan
Perdebatan mengenai nubuat Nabi Muhammad SAW dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru telah berlangsung dalam kajian keagamaan selama berabad-abad. Dalam perspektif Islam, sejumlah ayat dalam kitab-kitab terdahulu dipandang memiliki isyarat mengenai kedatangan Rasul terakhir.
Penulis berpendapat, meskipun terdapat perbedaan tafsir dan pemahaman antara tradisi Islam dan Kristen terhadap ayat-ayat tersebut, masih terdapat bagian-bagian Taurat dan Injil yang dipandang sebagai isyarat mengenai kenabian dan kerasulan Muhammad SAW.
Keyakinan tersebut menjadi bagian dari pemahaman umat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan rasul terakhir yang membawa risalah untuk seluruh umat manusia.[]












