Netralpos, Aceh Utara — Langkah seorang pemuda asal Aceh Utara menuju Senayan menjadi pengalaman sekaligus ruang belajar baru. Aris Munandar mendapat kesempatan mewakili Aceh dalam Forum Pemuda Parlemen Indonesia setelah melewati serangkaian tahapan seleksi.
Proses tersebut dimulai dari seleksi administrasi, wawancara, forum dialog dan diskusi, hingga mengikuti Youth Catalyst Program. Berbagai tahapan itu dilalui Aris dengan persiapan dan kesungguhan sebelum akhirnya terpilih menjadi bagian dari forum pemuda di tingkat nasional.
Aris mengatakan, keikutsertaannya dalam Pemuda Parlemen Indonesia bukan sekadar membawa nama Aceh ke tingkat nasional.
“Keikutsertaan saya di Pemuda Parlemen Indonesia bukan hanya semata-mata untuk membawa nama daerah. Saya ingin menjadi bagian dari generasi muda yang memahami persoalan di daerahnya dan mampu menyampaikan berbagai isu strategis Aceh melalui ruang dialog yang lebih luas,” kata Aris, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan masyarakat Aceh yang perlu dibicarakan secara terbuka, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Karena itu, forum seperti Pemuda Parlemen Indonesia dinilai menjadi ruang bagi anak muda untuk menyampaikan pandangan, bertukar gagasan, sekaligus memahami persoalan bangsa dari perspektif pemuda yang datang dari berbagai daerah.
“Forum Pemuda Parlemen Indonesia mempertemukan anak-anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Ini memberikan kesempatan kepada saya dan seluruh peserta untuk saling mengenal, berdiskusi, serta melihat berbagai persoalan bangsa dari latar belakang dan pengalaman yang beragam,” ujarnya.
Aris menilai, keberadaan ruang dialog nasional penting bagi generasi muda. Sebab, menurutnya, persoalan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menyampaikan kritik.
“Anak muda juga perlu memiliki kemampuan untuk berdialog, membangun komunikasi yang baik, memahami persoalan secara utuh, serta mengambil bagian dalam mencari jalan keluar,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya keterampilan sosial atau social skill bagi anak muda. Kemampuan tersebut, kata Aris, mencakup kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, membangun hubungan yang baik, serta menyampaikan kritik secara bermoral dan bertanggung jawab.
“Kritik dari anak muda tetap diperlukan dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik akan lebih berarti apabila diikuti dengan kepedulian dan tindakan nyata,” ujarnya.
Menurut Aris, anak muda tidak cukup hanya mengetahui bagaimana menyampaikan kritik. Mereka juga perlu mengambil ruang dan peran untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungan masing-masing.
Ia mengingatkan agar ruang publik tidak semata-mata digunakan untuk mencari perhatian melalui social stunt, yakni aktivitas yang sengaja dibuat mencolok atau kontroversial untuk mendapatkan perhatian publik, terutama di media sosial.
“Popularitas bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang anak muda dalam mengambil peran di tengah masyarakat,” katanya.
Aris menegaskan, setiap langkah dan tindakan anak muda harus tetap dilandasi moral, etika, tanggung jawab dan sikap saling menghargai.
“Kita semua ialah bangsa yang mempunyai moral dan etika. Karena itu, setiap langkah dan tindakan anak muda harus dilandasi tanggung jawab, sikap saling menghargai, serta keberanian menyampaikan kritik dengan cara yang baik,” ujarnya.
Ia berharap anak muda semakin banyak mengambil bagian dalam ruang-ruang dialog nasional yang sehat. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menyampaikan pandangan, tetapi juga mendengarkan berbagai perspektif dan memahami kebijakan serta persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
Melalui ruang dialog tersebut, kata Aris, anak muda dapat melihat persoalan yang belum mendapat perhatian, mengetahui apa yang sudah dilakukan, sekaligus memahami bagian mana yang masih membutuhkan perbaikan.
“Langkah menuju Senayan melalui Pemuda Parlemen Indonesia pada akhirnya bukan hanya tentang hadir di sebuah forum nasional. Lebih dari itu, kesempatan ini menjadi ruang belajar bagi saya. Sebagai anak muda Aceh, tentu saya harus membawa pengalaman dan persoalan daerah ke dalam diskusi yang lebih luas,” katanya.
Ia menyebut kesempatan tersebut sekaligus menjadi proses untuk membangun kemampuan berkomunikasi, berdialog dan mengambil peran secara bertanggung jawab.
“Anak muda Aceh tidak harus menunggu untuk menjadi bagian dari perubahan. Selama tersedia ruang untuk belajar, berdialog dan berkontribusi, generasi muda dapat mengambil perannya masing-masing untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, daerah dan bangsa,” tutup Aris.[]












