BeritaNews

Pembinaan Berujung Kematian, Sistem Pengawasan TNI AU Dipertanyakan

×

Pembinaan Berujung Kematian, Sistem Pengawasan TNI AU Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini

Netralpos, Jakarta – Kematian Serda Ahmad Muzammil Farisa setelah mengalami penganiayaan oleh seniornya tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan perilaku sejumlah individu. Peristiwa ini juga membuka pertanyaan serius mengenai sistem pembinaan dan pengawasan prajurit di lingkungan TNI Angkatan Udara. Rabu 16/09/2026.

Kasus tersebut semakin menjadi sorotan karena tindakan terhadap para junior disebut bermula dari persoalan komunikasi dan kemudian berujung pada kekerasan fisik. Selain Serda Ahmad yang meninggal dunia, dua prajurit lainnya juga disebut turut menjadi korban.

Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana tindakan yang disebut sebagai pembinaan dapat berkembang hingga menyebabkan seorang prajurit kehilangan nyawa? Di titik mana pengawasan seharusnya menghentikan tindakan tersebut?

Penegakan hukum terhadap prajurit yang telah ditetapkan sebagai tersangka merupakan bagian penting dari proses penyelesaian kasus. Namun, jika evaluasi hanya berhenti pada pelaku, akar persoalannya berisiko tidak tersentuh.

TNI AU perlu mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme pembinaan senior-junior, batas tindakan disiplin, sistem pengawasan di satuan, serta saluran pengaduan bagi prajurit yang merasa mendapat perlakuan tidak semestinya.

Sistem pengawasan juga perlu memastikan tidak ada ruang bagi praktik senioritas yang keluar dari koridor pembinaan dan disiplin militer.

Kematian Serda Ahmad seharusnya menjadi alarm keras bahwa disiplin tidak boleh diterjemahkan menjadi kekerasan. Pembinaan harus menghasilkan prajurit yang tangguh, bukan meninggalkan korban.

Kini momentum evaluasi itu ada. Yang perlu dibuktikan bukan hanya siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa ini, tetapi juga bagaimana sistem memastikan tragedi serupa tidak kembali terjadi.