Netralpos, Aceh Timur – Setiap pagi, anak-anak Naleung harus menunggu rakit sebelum bisa berangkat sekolah. Warga membawa sepeda motor, pedagang mengangkut barang, sementara mereka yang hendak berobat harus menyeberangi sungai sekitar 90 meter yang memisahkan Gampong Simpang Lhee dan Gampong Naleung, Kecamatan Julok.
Hujan tidak menghentikan kebutuhan warga. Sekolah tetap berjalan, pekerjaan tetap harus dilakukan, dan kebutuhan keluarga tidak bisa ditunda. Namun jembatan utama yang menjadi akses warga sudah empat tahun tidak kembali berfungsi.

Untuk menyeberang, warga harus membayar. Untuk menghindari rakit, mereka harus memutar sekitar 18 hingga 20 kilometer melalui jalur darat yang dikeluhkan rusak.
“Kalau lewat Krueng Naleung ini, Pak, cuma berapa menit saja sudah sampai. Kalau lewat jalan satu lagi, jauh sekali mutar. Belum lagi jalannya pun jelek kali,” ujar Nurhasanah, warga setempat. Rabu 23 September 2026
Kepada Netralpos.com secara langsung seorang warga yang juga penyedia rakit penyebrangan, Junaidi, mengatakan tarif penyeberangan Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp2.000 bagi pejalan kaki. Warga yang rutin menggunakan rakit bahkan disebut dapat mengeluarkan sekitar Rp300 ribu dalam sebulan

“Kalau orang biasa 5000 harga karena mereka naik motor, kalau anak sekolah 2000 harga nyeberang pak, kita batas sampek jam 12 malam pak, kalau mulai ya dsri pagi jam setengah enam mulai tunggu orang lewat nyeberang, ganti-ganti orang kami kerja di rakit pak” Ungkap Junaidi kepada RRI.
Di atas rakit itulah aktivitas masyarakat terus berlangsung termasuk anak-anak sekolah yang harus menyeberang setiap hari.
Persoalan ini bukan tidak diketahui pemerintah, Warga menyebut anggota DPRA hingga DPR RI pernah mendatangi lokasi. Bupati Aceh Timur juga telah meninjau langsung kondisi jembatan.

Pada Oktober 2025, Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky melihat kondisi Jembatan Naleung dan menyampaikan upaya pembangunan kembali, termasuk opsi jembatan gantung maupun jembatan permanen.
“Orang sudah datang, dari DPRA sampai DPR RI pernah datang. Pak Bupati juga sudah datang, foto-foto di tempat ini. Dulu kami tanya kapan dibangun, katanya nanti 2025. Ini sudah mau habis 2026. Jangankan dibangun, batu bata satu biji pun tidak nampak,” ungkap Mukils.
Kekecewaan warga juga menyentuh cara pemerintah mengomunikasikan berbagai capaian melalui media sosial.
“Bupati banyak konten tentang pencapaian dan prestasi. Kami juga senang kalau daerah maju. Tapi kami di sini cuma minta jembatan. Itu saja susah sekali, dari 2022 sampek 2026 ni bang, tahun 2024 katanya mau di buat di 2025, bencana bencana dah habis ini juga belom di bangun, mau tahun 2027” kata warga.
Di sisi lain, data pengadaan mencatat pekerjaan “Perencanaan Pembangunan Jembatan Naleung Kec. Julok” untuk Tahun Anggaran 2026 dengan pagu sekitar Rp130,8 juta dari APBD.
Namun yang ditunggu warga bukan lagi sekadar perencanaan, Mereka menunggu pekerjaan dimulai, Menunggu tiang berdiri, Menunggu lantai jembatan bisa dilewati, 2025 telah berlalu. Kini September 2026.
Rakit masih menjadi penghubung. Warga masih membayar. Anak-anak masih menyeberang. Mereka yang memilih jalur darat masih harus memutar belasan kilometer.
Empat tahun telah berlalu sejak jembatan itu tidak lagi menjadi jembatan.
Dan di tepian Krueng Naleung, pertanyaan warga kini semakin sederhana, Kapan jembatan itu benar-benar berdiri? Sebab yang datang setiap hari adalah rakit, Yang ditunggu selama empat tahun adalah jembatan.












