Netralpos, Banda Aceh – Banjir dan longsor kembali menerjang sejumlah wilayah Aceh. Imbauan agar masyarakat waspada kembali disampaikan, tetapi bencana yang berulang semestinya menjadi alarm bahwa mitigasi tidak boleh berhenti pada pesan kewaspadaan.
Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Aceh Tengah kembali terdampak pada 13–14 September 2026. Di Aceh Tengah, satu orang meninggal dunia dan 13 lainnya terluka. Kondisi ini menunjukkan risiko bencana masih nyata dan membutuhkan kesiapan yang lebih terukur.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem telah mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Namun, pemerintah juga perlu memastikan peringatan tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan sebelum bencana terjadi. Rabu 16/09/2026.
Pemetaan kawasan rawan harus diperbarui, terutama wilayah dengan tanah yang masih labil. Sistem peringatan dini perlu dipastikan berfungsi dan menjangkau warga hingga tingkat gampong, bukan sekadar tersedia di atas kertas.
Pemerintah juga perlu menyiapkan jalur evakuasi yang jelas, titik pengungsian, personel, peralatan penyelamatan dan alat berat di lokasi strategis. Simulasi evakuasi bersama masyarakat di kawasan rawan juga penting dilakukan secara berkala.
Di sisi lain, masyarakat harus dilibatkan sebagai mata dan telinga pertama di wilayahnya. Aparatur gampong dapat membangun sistem informasi cepat untuk melaporkan kenaikan debit sungai, retakan tanah, longsoran kecil atau tanda-tanda lain yang berpotensi berkembang menjadi bencana.
Kini saatnya peringatan diubah menjadi aksi. Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota perlu segera memperkuat sistem peringatan dini, memastikan jalur evakuasi dan tempat pengungsian siap digunakan, serta menempatkan personel dan peralatan di titik rawan.
Jangan menunggu banjir membesar atau longsor menutup jalan baru bergerak. Langkah pencegahan harus dimulai sekarang, karena keselamatan masyarakat ditentukan oleh kesiapan sebelum bencana, bukan hanya kecepatan penanganan setelah korban berjatuhan.












